Cari

Dateline Karet Penuh Pengampunan

Temanggung, akhir-akhir ini sedang panas, hujan, berkabut. Temanggung sedang labil.

Hah, sedang melawan pengampunan diri akan dateline. Pas kerja, ada yang ngurusin dateline, ada yang ngingetin terus, sampai jatuhnya berisik. Tapi kerjaan kelar, sesuai Dateline. Sekarang, yang bikin Dateline ya sendiri, yang ngerjain kerjaan juga sendiri, yang ngingetin Dateline juga diri sendiri. Dan akhirnya Dateline hanya sekedar batasan semu. Sial.

Iklan

Sibuk!

Okai, sudah lama saya nggak nulis.

Saya sibuk, sibuk cari niat buat nulis. Hash!

Beberapa pekan sedang sibuk menggarap ina-itu di warung, di Paspring. Semua menyedot pikiran. Akhirnya hanya tidur saja jika sudah di rumah. Sungguh melelahkan, desa juga bisa sibuk. Kemudian saya berfikir, desa itu adalah medium, sedangkan apa yang ada dalam diri saya masih dalam pusaran kota. Pola pikir, ritme pekerjaan. Yang tidak hanya kemalasan karena tidak ada Account yang ngejar-ngejar dateline. Baiklah.

Banyak masak, banyak uji coba. Baiklah sekian, saya akan masak lagi.

Warung Makan Lik Cil dan Harapan Kemandiarian Financial

16 Agustus 2017 akhirnya saya nekat membuka Warung Makan Lik Cil. Kenapa Nekat, karena belum mengetahui semua halangan secara teknis maupun rencana bisnis. Saya memutuskan untuk nyemplung dan siap segala risiko lumpur atau hewan apa saja yang ada di dalam. Ya saya siap!

Boom! Hari Pertama buka. Desain dapur terbuka membuat angin dengan gampangnya menggoyang api, dan berhasil menggoyang emosi saya! Masakannya kapan matangnya!  Baik, dapur harus ketutup! Pak Muh, terima kasih telah menutup dapur.

Hari berikutnya, tikus. Wastaga, tikus ngacak-ngacak dapur! Karena belum punya anggaran buat menutup rapat permanen, jalan tengahnya adalah tidak menaruh bahan makanan di dapur. Lupa memasukkan bahan makanan ke gudang, adalah kerugian. Duh!

Hari berikutnya dan berikutnya selalu menemukan kekurangan yang menjadi pekerjaan. Ya Lik Cil selalu dalam renovasi, kurang inilah, yang itu dipindah, kena luapan air (yang ini sedih sih), banyak tahi kelelawar, jamur, tempiyas hujan. Ya begitulah bangunan di pinggir sawah. Sungguh dinamis. Ini semua atas nama kemandirian finansial di desa. Saya patut membuktikan bahwa di desa pun bisa mandiri finansial. Hahaaa…

Semakin hari semakin mencari dan semakin menemukan pecahanpecahan posisi Lik Cil mau di posisikan bagaimana, dimana, dan seperti apa. Mohon doa teman-teman.

Mereka Menikah dengan Biaya Relatif Murah dan Ide yang Relatif Mahal

Pasar Papringan Spedagi di Ngadiprono.
 
 
Entah kenapa, menikah dan biaya mahal menjadi pasangan sejoli yang menjadi momok banyak pasangan yang ingin menikah, apalagi pasangan yang sedang meniti karir atau yang sudah lama bekerja tapi gajinya selalu dirasa tak cukup (gajinya nggak naik-naik). Baiklah.
 
Kemudian sekelompok mahkluk hidup yang berakal budi berkumpul di Pasar Papringan Spedagi di Ngadiprono dan bekesimpulan membuat salah satu ritual pernikahan di Pasar Papringan. Berpikir dan berkreasi sangat mahal, jauh dari kata murah apalagi murahan. Dan mereka berhasil memisahkan pemahaman menikah dan biaya mahal.
 
Sederhana saja, segar, dan sakral.

Saya Menanam Alarm di Dalam Otak

“Enak ya bisa bangun pagi! Eh tapi, butuh banget bangun pagi?” Saya berhenti bertanya, saya bangun pagi, dan lihat apakah saya butuh atau tidak.

Masih hangat dalam ingat, bagaimana saya membuat alarm kesadaran dalam pikiran saya. saya ingat-ingat lagi bagaimana cara detilnya. Beberapa kali saya ucapkan “aku mau bangun pagi!” dari sore sampai menjelang tidur, saya ucapkan berkali-kali. Berhasil bangun pagi? Ya! Berhasil! Saya bangun jam 05.00 pagi! Kemudian pegang HP. Hari berikutnya saya ingin lebih produktif, sebelum tidur saya membuat jadwal kegiatan yang akan saya lakukan. Salah satunya Blogging.

Dan ternyata, butuh atau tidak bangun pagi, saya belum tahu, tapi saya suka dengan atmosfer subuh.

“Bulan puasa mau ngapain ya?”

Yeay! Warung sudah selesai renovasi! Eh tapi udah masuk bulan puasa, lama banget kalau nunggu selesai puasa buat jualan. Aha! buka warung kopi aja pas malam. Mari kita belanja perabotan!

Duh males ngetik. Oke buat cepet aja.

Lampu semua terpasang, undangan tersebar. Warung Lik Cil sungguh begitu kuning di pinggir sawah, hangat sekali. Teman mulai datang. 2 jam kemudian, teman yang datang tak kunjung pulang, alahasil kursi semua terisi. Baik kesimpulannya, lalu lintas pengunjung tak baik, saya capek karena belum dapat karyawan, dan listrik nun borosnya. Baik tutup dulu saja.

Warung Makan LIK CIL

Duh saya ngantuk.

Okelah sebelum ngantuknya benar-benar tak bisa dilawan, saya mau nulis dikit aja. Beneran dikit.

Oke buka warung makan! Jualan makanan apa? Soto! Eh, menu desa aja. Oke, nama warungnya mau apa? Hmmm… yingan! Apa ya namanya? …

Jeda satu bulan.

Buka grup Whatsapp, “Nama warung saya adalah Lik Cil. Karena saya sudah jadi Pak Lik, dan dan saya anak paling Cilik (terakhir)”. Begitulah kiranya saya menamai warung makan saya.

Api wira usaha mengembara! Kebakaran tepatnya! Terlanjur terbakar lebih tepatnya! Tang… Tang… Tang… Renovasi mundur dan bulan puasa datang! Nggak jadi jualan. Hahaaa…

Saking Banyaknya, Jadi…

“Ini penting, yang itu juga penting, eh tapi kalau ini nggak dikerjaain bisa kacau, apalagi yang itu tuh juga penting.” Oke Sebath dulu aja

Ah! Semakin banyak tanggung jawab dan jadwal kerja yang harus ditanggung dan di kerjakan. Di desa, saya merasa bersaing dengan Intel Pentium. Mengerjakan pekerjaan lebih dari satu dalam satu hari yang sama. Gila. Tapi mau gimana lagi, semua yang dikerjakan memang harus dikerjakan, emang udah saatnya otak ini ditingkatkan. Kalau otak nggak bisa berpindah cepat dan tangan nggak bsa ngerjain yang lain, maka kemampuan hanya akan terhenti pada titik itu saja. Dan cuma dapet itu saja. Udah. Kan Bodo.

Setalah dibedah di papan jadwal, sudahlah hati ini tenang. ternyata otak ini adalah sumber keributan yang syarat akan Maido (istilah jawa yang saya belum bisa jelaskan dalam bahasa Indonesia, contoh penggunan kata Maido. “Kamu itu belum tahu ceritanya, tapi udah Maido”. Nah gitu, semoga bisa paham)

Malas dan Tenang itu beda tipis, tapi dampaknya beda jauh. Kadang, eh sering orang menutupi malasnya dengan tenang. Diam, kemudian ngantuk, dituntaskan dengan tidur, dan bangun tidak mengerjakan tugasnya. Ya saya juga begitu. Hahaha…

Baik, saya mau mulai kerja dulu. Bangun pagi, udara dingin, buka laptop, ubi rebus, teh panas, itu anugerah desa. Oh semesta!

Sekali lagi, tulisan ini belum saya subting, nah kayak gitu tuh, nulis “Sunting” aja jadi “Subting”.

Rumah dan Komunikasi

Ah, ada saja uniknya kembali ke rumah.

Akhir pekan adalah jadwal saya dan orang tua ngobrol, lewat telepon. Ya maklum, waktu itu saya masih bekerja di Jakarta. Seminggu sekali saja, kadang banyak skip-nya. Ya kadang ada lembur, pas lagi di jalan, jadi nggak bisa angkat telepon, orang tua gantian yang lagi sibuk, dan sebagainya.

Sekarang, semenjak kembali ke rumah, saya dan orang tua tak perlu menunggu bunyi nada tunggu untuk berkomunikasi, kapanpun bisa mengobrol, atau sekedar bertanya hal remeh. Banyak hal baru yang saya pelajari dari kepulangan saya ke rumah, salah satunya adalah komunikasi. Semakin banyak waktu berkomunikasi dengan orang tua, “gesekan” makin sering terjadi. Ya kebanyakan karena Miss Communication, yang berujung emosi spontan. Menarik, ya dua sisi. Dengan mengenali kondisi tersebut, saya habiskan separuh hari saya di Warung Lik Cil. Jikapun ada kabar apa dari rumah, saya bisa cepat meluncur, tak perlu beli tiket lagi.

Begitulah hubungan, sering bertemu dan jarang bertemu sama-sama menghasilkan dua sisi. Sepaket. Sepakat. Alpukat. Abaikan.

Tulisan ini belum saya edit. Maaf jika ada salah tulis, eh, ketik.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑