Cari

Rumah dan Komunikasi

Ah, ada saja uniknya kembali ke rumah.

Akhir pekan adalah jadwal saya dan orang tua ngobrol, lewat telepon. Ya maklum, waktu itu saya masih bekerja di Jakarta. Seminggu sekali saja, kadang banyak skip-nya. Ya kadang ada lembur, pas lagi di jalan, jadi nggak bisa angkat telepon, orang tua gantian yang lagi sibuk, dan sebagainya.

Sekarang, semenjak kembali ke rumah, saya dan orang tua tak perlu menunggu bunyi nada tunggu untuk berkomunikasi, kapanpun bisa mengobrol, atau sekedar bertanya hal remeh. Banyak hal baru yang saya pelajari dari kepulangan saya ke rumah, salah satunya adalah komunikasi. Semakin banyak waktu berkomunikasi dengan orang tua, “gesekan” makin sering terjadi. Ya kebanyakan karena Miss Communication, yang berujung emosi spontan. Menarik, ya dua sisi. Dengan mengenali kondisi tersebut, saya habiskan separuh hari saya di Warung Lik Cil. Jikapun ada kabar apa dari rumah, saya bisa cepat meluncur, tak perlu beli tiket lagi.

Begitulah hubungan, sering bertemu dan jarang bertemu sama-sama menghasilkan dua sisi. Sepaket. Sepakat. Alpukat. Abaikan.

Tulisan ini belum saya edit. Maaf jika ada salah tulis, eh, ketik.

Iklan

Ah, Sudah Saatnya Bikin Sesuatu!

Setelah mengganggur dirasa cukup, saya membuka usaha.

 

Usaha saya cukup dialiran jeram utama. Buka tempat makan, warung makan. Hobi saya adalah menulis dan memasak, itu saja. sudah coba menulis, belum ada yang diselesaikan dengan benar, mandheg dan terlalu malas untuk melanjutkan. Maka dari itu saya mencoba hobi saya yang satu lagi. Masak. Nah masak apa? Saya pemasak amatir. Belajar dari dapur ibu, bumbu lokal, masakan lokal, itu saja. Pernah saya tertantang memasak nasi goreng dengan standar rasa nasi goreng Pak Entit, artisan nasi goreng yang terkenal di lingkungan tempat tinggal saya. Dari lebh 20 kali percobaan, dari SMA sampe Kuliah, tetep saya belum bisa menyamai rasa nasi Goreng Pak Entit. Hal itu adalah pukulan terbesar saya akan kemampuan saya memasak. Dan sempat mogok masak. Tapi mogok masak saya tak bertahan lama, karena harus menghemat uang di masa kuliah, jadi harus masak sendiri. Paling tidak masak nasi , dengan menekan tuas Rice Cooker.

belum buka saja, sudah ada tantangan berat di depan. Saya harus menjawab pertanyaan

“Mau buka warung  makan seperti apa? Masakan apa?”

Aha Soto! Warung makan soto. Soto adalah makanan favorit saya  sekaligus masakan dengan bumbu yang saya benci. Kenapa? Karena saya belum bisa meracik bumbu soto yang enak. permasalahan sungguh fundamental. Tak mau menyerah, saya mencoba meracik bumbu soto. Seminggu, tiga kali uji coba bumbu, lain harinya saya pakai buat jajan soto. Tujuannya menguji kecakapan rasa, lidah, dan pengenalan bumbu. Saya membuat tiga golongan dalam rasa soto yang sudah saya cicipi, soto light, hard, dan gilak. Light itu rasa kuahnya ringan, warna kuah bening, rasa bumbu rempahnya tipis, dan sedihnya cenderung bergantung dengan penyedap rasa (dugaan saya). Ah sedih sekali. Sedangkan Hard, warna kuahnya cenderung keruh. Ada yang memakai rendaman sumsum tulang, santan dan kluwak. Menarik. Dan yang termasuk golongan gilak adalah soto yang membuat nyaman, sumpah ini sungguh perspektif individu saya sebagai pemuja soto yang amatir. Walaupun susah untuk menjelaskan, saya akan berusaha. Dibuka dengan tampilan bagus; sayur, bihun atau so’on, dan bawang goreng tetap tertata walaupun sudah diberi kuah. Kalau soto sapi saya suka minta tambahan toping irisan tomat. kuahnya cenderung kuning tipis kaldu, bau rempah dan gurih kaldu sudah tercium. Sungguh nyaman. Tanpa jeruk nipis, sambal, kecap, dan kerupuk, sendok saya mengambil kuah langsung masuk mulut. Sekian.

Bangunan warung sudah purna renovasi, tapi resep tak kunjung terpilih hati. Ah! Sial! Lebaran kemudian datang, saya bawa rasa bingung yang cenderung ke marah pada diri sendiri untuk saya labuhkan ke kunjungan-kunjungan silaturahmi di rumah saudara, temannya bapak, mantannya ibu, rumah simbah paman, besan keluarga, keluarga angkat bapak, teman yang jadi saudara, dan banyak lainnya. Ya begitulah. Semua makanan saya cicipi yang sungguh homogen. Wujudnya saja yang homogen, tapi rasanya sungguh heterogen. Itulah masakan, sungguh unik. Ah suka.

Sampai saya memutuskan memilih mendengarkan nasihat teman.

“Oke, saya pilih buka warung makan model Ramesan”

Ramesan adalah model warung makan dengan menyajikan varian masakan yang sudah matang, sehingga pengunjung bisa mencampur masakan sesuai selera.

Begitu kiranya cerita dari desa kali ini.

Catatan ini belum diperiksa kembali. Saya langsung posting saja. Editing menyusul.

 

Setahun Pulang ke Desa

Januari! Boho! Sudah setahun! Setahun tidak sibuk ribut soal Air Swing atau suhu AC ruangan kantor. Sudah tidak teriak-teriak kalau Wifi mati. Sudah ngitung tanggal gajian tinggal berapa hari lagi. Suudah berhenti dapat pesan “Cek email”.  Sudah tidak lagi bisa gabung obrolan karyawan di Pantry, sambil ngapalin orang yang suka minta rokok sama yang cari makan gratisan dengan diksi “eh cobain dong”. Ya, setahun keluar dari Jakarta. Setahun sudah tidak mengumpat di jalan karena macetnya jalanan TB Simatupang sampai Fatmawati. Ah setahun!

Setahun sudah kembali ke desa. Temanggung. Jadi begini cerita saya setahun di desa.

Dari akhir Desember, saya sudah berpamitan dengan Jakarta. Tepatnya Jakarta Selatan. persisnya Cipete Raya, Prapanca, Dharmawangsa, Kemang, PangPol, dan agak menyimpang dikit, Jati Asih dan Kebun Raya Bogor. Nah semoga membantu imaji rute saya selama berkarya di sana. Kembali ke Januari. Kali ini Januari 2016. Sebelum bertolak ke Bali Utara, saya dan Wendy sepakat untuk membuat cerita pendek. Cerita fiksi tentang desa dan kegilaan alam pikir fiksi kami. Setiap hari bertemu, beruunding ide cerita, alur, penokohan, dan lebih dari sekali bertukar umpatan. Umpatan atas penemuan ide kami yang cukup kami saja yang terpana. lebih dari separuh jalan sudah kami tempuh, tenggat waktu tanggal keberangkatan saya ke Bali Utara dan penyelasaian cerpen kami ternyata belum sesuai. Saya berangkat ke Bali. Dan cerpen berhenti. Bukan, istirahat tepatnya.

Baiklah sampailah saya ke Intaran. Bali Utara. Desa di Bali Utara sungguh tenang, kalaupun ada suara nyanyian musik yang entah motifnya ya sudahlah ya. Sepeda motor adalah penyelamat saya! Angkutan umum masih belum bisa dibanggakan untuk menjadikan pilihan utama transportasi. Intaran, lingkungan biotik dan abiotik membuat saya tenang sebagai pengangguran baru. Program magang dibuat, jadwal dicatat. baik, sepakat. Pak Gede dan Istri, Terima kasih! Dari rencana tiga bulan magang soal makanan lokal di Bali Utara, saya singkat kurang dari sebulan, karena ada janji yang dimajukan dengan teman. Ya kalau  pengangguran, kalau nggak urusan duit apalagi sih sampai mempersingkat durasi magang. Ya begitulah.

Sampai di Temanggung kembali. Masih uforia Resign dan tabungan masih oke buat jalan-jalan, maka dalam beberapa bulan diputuskan lah jalan-jalan di Temanggung. Jalan ke desa, jalan ke lereng gunung, dan jajan ini-itu. Ya begitulah. Nah ini dia, saat yang ditunggu-tunggu. Saldo di bank sudah menunjukkan angka berbahaya. Saatnya membuat bisnis. Mantan Copywriter & Content Maker yang hobi masak mau bikin usaha apa? Pikir singkatnya sih pengen bikin Content Management di desa, atau buka warung makan. Konsultasi yang ujungnya kebanyakan curhat dengan banyak pihak, maka diputuskan usaha yang dipilih adalah ……

Lanjut nanti yah. Ngantuk nih. Maklum jam segini udah ngantuk banget di desa. hehehe.

Putri Kembali Hadir

Semalam tadi, kau kembali mampir berseloroh dengan rasa di bunga tidurku. Kau berubah centil, terus terang dan berani, sikapmu itu membuatku terpancing untuk berbicara tanpa aling-aling. Oh sungguh aku terbakar. Kita saling mencurahkan rasa, asam, manis, pedas, gurih, asin, dan pahit. Rasa dari laut sampai rasa dari gunung, rasa dari bumbu umbi sampai dari ujung daun. Rasa dari buah segar, sampai dari rasa busuk protein. Semuanya kita bicarakan, semua kita luruskan. Dan terjadilah senyum merah kita. Sungguh lucu, seperti kita berseragam putih abu-abu. Oh mungkin ini wahyu subuh terindah di bulan Agustus yang akan segera selesai ditabuh.

Pada Hari Minggu Ku ajak Teman Ke Desa, Naik Kijang Istimewa Ku Pegang Kemudi di Muka.

 

Atas nama belajar swa racik penyedap rasa dan melunasi hutang pertemuan dari setahun lalu dengan mas Bimo, hari Minggu saya dan beberapa teman berangkat ke Pasar Sasen. Ini dharmawisata, tak ada salahnya saya macak sedikit, celana pendek, kaos dinas Spedagi, backpack, dan sandal Swallow hijau. Tadinya sih mau pakai Sneakers, tapi dimarahi oleh dik Gindung, katanya Sneakers yang saya punya ini merupakan produk penyeragaman dunia, menghilangkan ciri khas. Itulah oleh-oleh dari nonton film Schooling The World,

Perempatan Pandowoharjo, kemudi saya arahkan ke kiri, suara mbak-mbak GPS “Lost Signal” membuat rombongan terpingkal geli. Modal mantep, kami terus berjalan. Tak lama terlihat papan nama yang terlihat nyeni, “Lego Roso”, karena tak elok kalau mendadak menghidupkan lampu sign kiri tanda belok, kami memutuskan untuk berputar di perempatan yang di tengahnya ada tong  penyok. Mobil  terparkir, pintu dibuka, bangku dilipat, semua rombongan telah mulai bersalaman dengan tuan rumah Pasar Sasen, saya menyusul setelah memastikan jendela terbuka sedikit, maklum panasnya potato-potato (istilah untuk panas yang menyengat). Halaman Lego Roso masih terlihat lengang, dari jauh saya sudah mulai mengenali Mas Bimo dari identitas topi Guna Goni dan lebar pinggang. Tangan mulai bersalaman dengan banyak tangan lain. Mas Nug, Mbak Imel, Pak Garuda, Bu Garuda, dan berlanjut siang dengan pengunjung pasar yang terlihat riang.

Pasar Sasen, saya cenderung menyebut pasar satu ini adalah pasar anomali. Pasar Sasen berbeda dengan bentuk pasar alternatif yang ada, dari tempatnya yang berpindah-pindah, penyamaan status “raja” terhadap pembeli dan penjual, dan romantisme persaudaraan. Semangat Pasar Sasen sederhana, “Cintailah produk-produk teman sendiri”, diharapkan dengan mencintai produk teman akan menimbulkan keputusan pembelian, sehingga teman sendiri mendapatkan penghasilan. Teman membantu teman, jadi tidak ada teman yang susah, cara kerja komunitas. Menarik. Bukankah cara ini relatif tepat untuk mencapai MDGs? Ah sudahlah malah jadi melantur sok pintar.

Kembali ke Pasar Sasen, selain saya suka menyebut pasar anomali, saya juga mulai suka menyebut pasar ini adalah pasar selo. Kenapa selo, karena pasar ini tidak menghamba pada transaksi ekonomi saja, melainkan juga menghamba pada transaksi persaudaraan, obrolan multi disiplin, cerita kelam kehidupan ibu kota, swa tanam, kedamaian desa, dan banyak hal lainnya. Kemudian saya membatin “Pasar Sasen ini kok tak ubahnya segerombolan pemuda nongkrong  di cakruk, yang membedakan, kalau Pasar Sasen ada sesuatu yang dijual, ada kegiatan ekonominya, walaupun bukan utama. Pasar yang sungguh hangat, bisa mengobrol panjang dengan penjualnya, duduk berkelakar, pasar yang sungguh selo.

Karena saya sudah berteman dengan penjual Pasar Sasen, maka saya mencintai produk teman saya, dan saya memutuskan untuk membeli. Tahu buatan mas Kuncoro jadi buah tangan, tali persaudaraan saya kencangkan. Dimulai dari tangan, diakhiri dengan tangan, kami bersalaman, tanda mohon undur diri, berpamitan.

Pasar Sasen, pasar selo, pasar persaudaraan.

 

 

Marah

#FebruariMenulis05

 

“Puas kau sekarang, bajingan?!”

Moncong bibir Monica mengarah tajam ke Landung.

Landung diam, matanya yang melotot merah.

“Biadab! Sebentar lagi kau masuk penjara!”

Monica menarik ucapannya dan berpikir cepat mengganti serapahnya

“Nggak, bukan penjara, kamu akan pergi dengan memori kejadian ini. Pembunuhan ini.”

Telunjuk tangannya menunjuk ke arah mata Landung dengan gemetar, pria yang lima belas menit lalu ia masih cintai sebagai manusia yang bernyawa.

Landung teriak. Menjambak rambutnya, badannya berputar dan kembali ke tubuh Monica. Dengan puas ia ludahi mayat Monica yang telah mulai membeku.

 

 

Komulata

Ana bercerita tentang orientasi seksualnya yang ia pilih, sesama jenis. Secara cepat ibunya menampar pipi kanannya, karena ia mencintai Ani, adiknya sendiri.

Klaras

#FebruariMenulis03

#Klaras 01

“Ras, bagaimana rasanya menjadi Bruce Wyne? Lahir dengan harta, tumbuh dengan masalah.” Pertanyaan terlontar dari Nara yang duduk di kursi Jengki menghadap kebun kopi Ekselsa.

Klaras masih diam. Melihat lamat sinar matahari yang siap merekah pelan di ujung jendela. Suara gerombolan kecici mengingatkan Klaras untuk menjawab pertanyaan.

“Ya rasanya seperti nasi yang baru selesai diadhang bertemu dengan sambal bandeng. Nyamleng. Suara Klaras tetap rendah. Hening kembali mengisi subuh. Suara gerombolan kecici mendadak hilang dan kokok ayam jago tak ada kabar. Hening, hening sekali, seolah alam dan makhluk isinya tak lidahnya dipotong pagi.

Sepotong tanya terdengar di hening telinga Klaras.

Nyamleng?” Sedikit penasaran, Nara mempertanyakan arti kata terakhir yang diucapkan Klaras.

Klaras berdiri dengan cepat, mengambil Cudrik istrinya di meja dan langsung menusuk belakang leher, tepat dipangkal tulang leher. Istrinya hanya sempat membuka mata dan berteriak serak, kemudian matilah ia.

“Ya, nyamleng.” Klaras  berdiri mematung, menutup mata, menata nafas dan pikir “Seperti ini, Nara! Klaras mengambil kemeja hitam di kursi, memasukkan kancing satu persatu dan diakhiri dengan tetap membiarkan kancing paling bawah terbuka, membiarkan gamannya terlihat gagah di lipatan sarung hitam.

“Hashhh…. selesai sudah apa yang telah dituliskan. Aku tunggu kau di Soto pak Bagong. Kuah kaldu ayam kampung bening dan bumbu pepaknya cocok buat badan yang tegang semalaman.”

Nara mematikan handsfree di telinganya, berdiri dari kursi jengki, menutup pintu omah Kelingan. Ia berdiri mengarah jalan, digerakkan jarinya untuk menarik jalan trasah batu yang diikuti jalan aspal kecil yang diteruskan dengan jalan aspal besar menjadi berlipat dan lebih pendek, kemudian ia berdiri di atasnya dan berjalan biasa. Ajian lompat kidang, cara untuk memperpendek jarak.

 

 

Sang Predator Telah Ditemukan!

Hari ini semakin benar kuasa perempuan terhadap semua yang ada di dunia ini. Kembali sang Pemimpin ditelan oleh kuasanya. Mungkin kalau Bill Clinton langganan surat kabar negeri ini dia akan sedikit galau. Ingat, di tulisan ini tidak ada karakter korban, semuanya adalah sama-sama pelaku.

Sabtu dan Minggu, Nur Sekarpening merajai semua media, bahkan sampai obrolan di warung nasi tempong bu Susi. Foto Nur Sekarpening diberi tajuk ‘Raja di Raja, Predator dari segala predator’. Isi beritanya sungguh membuat mulut berdecak penuh ragu. Nur Sekarpening memangsa sang pemimpin besar kelompok Raabwaji, pemimpin yang hampir semua orang percaya dialah sang predator pemuncak rantai makanan. Dialah pemangsa dari segala pemangsa, dialah yang tak akan termangsa oleh segala makhluk pemangsa.

Hari Senin, foto Nur Sekarpening mendadak lebih kecil dan diletakkan di atas  foto Sang pemimpin besar kelompok Raabwaji dengan tajuk ‘Sang Predator telah dimangsa’. Isi beritanya lebih dominan penyangkalan orang-orang terdekat sang pemimpin besar, bukan dari sang pemimpin besar itu sendiri, bahkan sang pemimpin besar tidak terlihat semenjak munculnya berita ini.

Hari ini, sekali lagi William Golding benar adanya. Wanita itu tidak setara dari laki-laki, mereka lebih dari itu! Nur Sekarpening, sang predator telah datang, telah ditemukan! Orang-orang di lantai dasar rantai makan bersorak riuh, hegemoni sang pemimpin mulai runtuh.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑