Cari

Marah

#FebruariMenulis05

 

“Puas kau sekarang, bajingan?!”

Moncong bibir Monica mengarah tajam ke Landung.

Landung diam, matanya yang melotot merah.

“Biadab! Sebentar lagi kau masuk penjara!”

Monica menarik ucapannya dan berpikir cepat mengganti serapahnya

“Nggak, bukan penjara, kamu akan pergi dengan memori kejadian ini. Pembunuhan ini.”

Telunjuk tangannya menunjuk ke arah mata Landung dengan gemetar, pria yang lima belas menit lalu ia masih cintai sebagai manusia yang bernyawa.

Landung teriak. Menjambak rambutnya, badannya berputar dan kembali ke tubuh Monica. Dengan puas ia ludahi mayat Monica yang telah mulai membeku.

 

 

Komulata

Ana bercerita tentang orientasi seksualnya yang ia pilih, sesama jenis. Secara cepat ibunya menampar pipi kanannya, karena ia mencintai Ani, adiknya sendiri.

Klaras

#FebruariMenulis03

#Klaras 01

“Ras, bagaimana rasanya menjadi Bruce Wyne? Lahir dengan harta, tumbuh dengan masalah.” Pertanyaan terlontar dari Nara yang duduk di kursi Jengki menghadap kebun kopi Ekselsa.

Klaras masih diam. Melihat lamat sinar matahari yang siap merekah pelan di ujung jendela. Suara gerombolan kecici mengingatkan Klaras untuk menjawab pertanyaan.

“Ya rasanya seperti nasi yang baru selesai diadhang bertemu dengan sambal bandeng. Nyamleng. Suara Klaras tetap rendah. Hening kembali mengisi subuh. Suara gerombolan kecici mendadak hilang dan kokok ayam jago tak ada kabar. Hening, hening sekali, seolah alam dan makhluk isinya tak lidahnya dipotong pagi.

Sepotong tanya terdengar di hening telinga Klaras.

Nyamleng?” Sedikit penasaran, Nara mempertanyakan arti kata terakhir yang diucapkan Klaras.

Klaras berdiri dengan cepat, mengambil Cudrik istrinya di meja dan langsung menusuk belakang leher, tepat dipangkal tulang leher. Istrinya hanya sempat membuka mata dan berteriak serak, kemudian matilah ia.

“Ya, nyamleng.” Klaras  berdiri mematung, menutup mata, menata nafas dan pikir “Seperti ini, Nara! Klaras mengambil kemeja hitam di kursi, memasukkan kancing satu persatu dan diakhiri dengan tetap membiarkan kancing paling bawah terbuka, membiarkan gamannya terlihat gagah di lipatan sarung hitam.

“Hashhh…. selesai sudah apa yang telah dituliskan. Aku tunggu kau di Soto pak Bagong. Kuah kaldu ayam kampung bening dan bumbu pepaknya cocok buat badan yang tegang semalaman.”

Nara mematikan handsfree di telinganya, berdiri dari kursi jengki, menutup pintu omah Kelingan. Ia berdiri mengarah jalan, digerakkan jarinya untuk menarik jalan trasah batu yang diikuti jalan aspal kecil yang diteruskan dengan jalan aspal besar menjadi berlipat dan lebih pendek, kemudian ia berdiri di atasnya dan berjalan biasa. Ajian lompat kidang, cara untuk memperpendek jarak.

 

 

Sang Predator Telah Ditemukan!

Hari ini semakin benar kuasa perempuan terhadap semua yang ada di dunia ini. Kembali sang Pemimpin ditelan oleh kuasanya. Mungkin kalau Bill Clinton langganan surat kabar negeri ini dia akan sedikit galau. Ingat, di tulisan ini tidak ada karakter korban, semuanya adalah sama-sama pelaku.

Sabtu dan Minggu, Nur Sekarpening merajai semua media, bahkan sampai obrolan di warung nasi tempong bu Susi. Foto Nur Sekarpening diberi tajuk ‘Raja di Raja, Predator dari segala predator’. Isi beritanya sungguh membuat mulut berdecak penuh ragu. Nur Sekarpening memangsa sang pemimpin besar kelompok Raabwaji, pemimpin yang hampir semua orang percaya dialah sang predator pemuncak rantai makanan. Dialah pemangsa dari segala pemangsa, dialah yang tak akan termangsa oleh segala makhluk pemangsa.

Hari Senin, foto Nur Sekarpening mendadak lebih kecil dan diletakkan di atas  foto Sang pemimpin besar kelompok Raabwaji dengan tajuk ‘Sang Predator telah dimangsa’. Isi beritanya lebih dominan penyangkalan orang-orang terdekat sang pemimpin besar, bukan dari sang pemimpin besar itu sendiri, bahkan sang pemimpin besar tidak terlihat semenjak munculnya berita ini.

Hari ini, sekali lagi William Golding benar adanya. Wanita itu tidak setara dari laki-laki, mereka lebih dari itu! Nur Sekarpening, sang predator telah datang, telah ditemukan! Orang-orang di lantai dasar rantai makan bersorak riuh, hegemoni sang pemimpin mulai runtuh.

Sang Sri

#FebruariMenulis01

“Tidak ada yang mau seperti saya, semua hanya ingin menjadi pintar. Siapa yang mau seperti saya? Bangun pagi, masak sarapan, menyapu halaman, sarapan sambil baca buku yang harus selesai dirangkum sebelum makan malam. Berangkat ke sekolah, merangkum, menafsirkan, kemudian dibuat catatan sendiri setiap mata pelajaran. Begitu setiap hari.

Sekali lagi siapa yang mau jadi seperti saya? Semua hanya ingin menjadi pintar, semua hanya ingin rangking satu, dan dapat hadiah. Itu saja.”

Dengan diakhiri kepala menunduk, Sri menggenapi perintah Ibu guru untuk memberikan pesan-pesan kepada temannya, agar mereka bisa meniru kesuksesan dirinya sebagai juara kelas.

Renungan Urban: Pekerjaan & Harapan

“Waktu memang jahanam

Kota kelewat kejam

Dan pekerjaan menyita harapan.”

Lirik Silampukau yang berjudul Lagu Rantau di atas menyadarkan saya akan pekerjaan dan harapan. Di lingkungan saya, biro iklan, jarang sekali saya temukan karyawan yang menceritakan betapa bahagianya ia dengan pekerjaannya. Dan selalu ditutup dengan kata “Resign”, tapi itu hanya kata, bukan sebuah tindakan.

Kembali ke lirik Silampukau, pekerjaan saya memang menyita harapan. Harapan untuk kembali dan berkarya di desa. Kenapa saya ingin segera mengakhiri pekerjaan saya sekarang? Karena saya menyadari, saya tidak mengerjakan harapan di sini. Saya hanya mengerjakan rutinitas, menunggu gaji bulanan dan  melunasi tagihan awal bulan.

Nah, okelah saya lanjutkan dulu dengerin Silampukaunya.

Strategic atau Reactive?

Pernah nggak sih ngrasain otak kebanyakan ide sampai nggak tahu mana yang mau direalisasikan. Ngobrol sama orang baru, nambah ide baru lagi. Ketemu temen lama yang udah mulai bisnis, nambah ide lagi. Nambah dan nambah terus. Banjir ide. Akhirnya ide itu terbawa banjir dan lenyap dan kita hanya diam saat menyadari orang lain sudah menciptakan, sedangkan kita hanya diam dalam lamunan. Lamunan ide.

Dari situ ada hal yang disadari, Most people are not strategic. They are reactive. (Baca lengkapnya di sini : http://thoughtcatalog.com/ryan-holiday/2016/08/29-lessons-from-the-greatest-strategic-minds-who-ever-lived-fought-or-lead/)

Ide yang muncul setelah bertukar obrolan dengan orang, semangat kisi-kisi sukses dari orang yang sudah berada di atas adalah sebuah reaksional belaka, lompatan semangat instan. Gembosnya semangat dan ide yang beguguran karena tidak adanya strategi. Strategi adalah kompas untuk semangat dan ide kita berjalan ke arah yang kita inginkan. Ya strategi, bukan reaksi. Jadi, sudah kepikiran strategi? Atau malah belum tahu mau ngapain? Ya, itu masalah sih.

Potret

Kami bertiga, mengambil gambar ini sebagai rumah ingatan. Ingatan untuk kembali suatu saat nanti. Awal kami membuat keputusan.

Doank sudah memulai apa yang dia suka. Menjual sari buah kepada mereka yang membutuhkan dan mampu beli. Jusyo.id. Membangun usaha sambil diuji sebuah ikatan. Percayalah, hal itu akan menguatkan, kawan!

 

Musasi sudah mengambil keputusan untuk keluar dari pekerjaanya. Sangat mendasar alasannya, baginya, apa yang ia lakukan di kantornya bukanlah pekerjaan seorang Graphic Designer. Sekarang ia dalam pencarian apa yang ia suka, apa yang ia ingini. Sebenarnya.

Saya? Saya sedang menjalani rencana yang telah saya buat. Bekerja sebagai karyawan, sambil memanfaatkan waktu senggang untuk merancang. Mereka bentuk bambu dan kayu, manambah nilai guna. Ah merancu! Dan akhir tahun, saya akan menyusul semangat dua kawan saya. Mendapatkan apa yang saya suka. Sebenarnya!

AADC 2 : Wisata Dejavu

Melihat Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC 2) merupakan sebuah wisata dejavu.

Sekali lagi, bagi saya melihat AADC2 adalah sebuah wisata dejavu. Saya ingin mengalami sekali lagi rasa 14 tahun lalu ketika saya melihat Ada Apa Dengan Cinta dalam format VCD bukan film bioskop. Bioskop di Temanggung waktu sudah memutuskan untuk tutup. Sebagai remaja yang sedang beranjak dewasa, saya mendapatkan patokan sebuah hubungan percintaan, ukuran perempuan cantik, dan menjadi lelaki keren itu bagaimana.

Lampu bioskop mulai dimatikan, AC mulai menyembur membekukan mata yang tegang. Suara tawa dan obrolan sekumpulan perempuan mulai mengisi. Ah! Menjual dejavu sekali Riri Reza. Senyum mulai mengembang, melihat Cinta yang gendutan nan menggemaskan dengan dua mata kalung emas mutiara. Milly yang mengandung anak dari Mamed, Maura yang menikah dengan suaminya di dunia nyata, Karmen yang sedang menjalani rehabilitasi narkotika, dan Cinta yang mengumumkan pertunangannya dengan Trian, pemuda kaya yang tak punya cerita. Atmosfer obrolan mereka, seperti 14 tahun lalu di ruang mading SMA. Ah dejavu, ah ciri khas, ah entahlah.

Masih sama, Geng Cinta yang bermandi tawa dan canda dan Rangga yang sedang diam membahas permasalahan dirinya dalam bahasa hati. Rangga masih dibelit rasa yang dibahasakan dalam kata-kata rumit. Kabar baiknya, Rangga sekarang sudah cukup mapan. Menjadi seorang kolomnis, punya Coffee Shop, dan sedang mendalami fotografi, sungguh bujang kekinian. Semoga, Rangga sebentar lagi jadi Key Opinion Leader (KOL).

“Every Body Changing” aturan ini tidak sepenuhnya berlaku dalam warna dialog AADC 2. Warna dialog relatif sama dengan film pertama, hanya pokok bahasanya yang berbeda. Yaaa… namanya umur kan. Karakter masing-masing peran masih kuat mengakar. Seperti Milly dengan kelucuannya memaknai topik, Maora dengan kegenitan emak-emak, Karmen dengan karakter semi premannya, dan Cinta yang masih menjadi pemimpin di geng tersebut. Sebelum bercerita lebih lanjut, mari mengheningkan cipta untuk Alya, yang meninggal akibat kecelakaan transportasi darat. Selesai.

AADC2 menyediakan beberapa gerbang mesin waktu untuk menarik kembali penonton masuk lebih dalam hingar bingar 14 tahun yang lalu. Gerbang mesin waktu itu dalam bentuk kata “Lalu”  dan gerakan berbalik badan. Khas sekali, seperti razia miras menjelang bulan Ramadhan yang sungguh khas.

AADC 2 menyajikan bahtera amarah dan rindu Cinta yang begitu rumit kepada Rangga. Sakit hati selama sembilan tahun dibayar lunas dalam sehari semalam pertemuan mereka.

Duhhh… lupa mau nulis apa, saya nonton AADC2 (lagi) dulu ya… biar inget… biar dapet Feel-nya.

Sumber gambar : https://www.google.co.id/imgres?imgurl=http%3A%2F%2Fwww.wowkeren.com%2Fimages%2Fnews%2F00104276.jpg&imgrefurl=http%3A%2F%2Fwww.wowkeren.com%2Fberita%2Ftampil%2F00104276.html&docid=E-rXL1xXgncb5M&tbnid=_3O8b0pCYQ9pUM%3A&w=630&h=338&bih=667&biw=1366&ved=0ahUKEwiukdj6ocDMAhVSGo4KHZtiBRgQMwhXKC8wLw&iact=mrc&uact=8

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑