Cari

Putri Kembali Hadir

Semalam tadi, kau kembali mampir berseloroh dengan rasa di bunga tidurku. Kau berubah centil, terus terang dan berani, sikapmu itu membuatku terpancing untuk berbicara tanpa aling-aling. Oh sungguh aku terbakar. Kita saling mencurahkan rasa, asam, manis, pedas, gurih, asin, dan pahit. Rasa dari laut sampai rasa dari gunung, rasa dari bumbu umbi sampai dari ujung daun. Rasa dari buah segar, sampai dari rasa busuk protein. Semuanya kita bicarakan, semua kita luruskan. Dan terjadilah senyum merah kita. Sungguh lucu, seperti kita berseragam putih abu-abu. Oh mungkin ini wahyu subuh terindah di bulan Agustus Yang akan segeera selesai ditabuh.

Iklan

Pada Hari Minggu Ku ajak Teman Ke Desa, Naik Kijang Istimewa Ku Pegang Kemudi di Muka.

 

Atas nama belajar swa racik penyedap rasa dan melunasi hutang pertemuan dari setahun lalu dengan mas Bimo, hari Minggu saya dan beberapa teman berangkat ke Pasar Sasen. Ini dharmawisata, tak ada salahnya saya macak sedikit, celana pendek, kaos dinas Spedagi, backpack, dan sandal Swallow hijau. Tadinya sih mau pakai Sneakers, tapi dimarahi oleh dik Gindung, katanya Sneakers yang saya punya ini merupakan produk penyeragaman dunia, menghilangkan ciri khas. Itulah oleh-oleh dari nonton film Schooling The World,

Perempatan Pandowoharjo, kemudi saya arahkan ke kiri, suara mbak-mbak GPS “Lost Signal” membuat rombongan terpingkal geli. Modal mantep, kami terus berjalan. Tak lama terlihat papan nama yang terlihat nyeni, “Lego Roso”, karena tak elok kalau mendadak menghidupkan lampu sign kiri tanda belok, kami memutuskan untuk berputar di perempatan yang di tengahnya ada tong  penyok. Mobil  terparkir, pintu dibuka, bangku dilipat, semua rombongan telah mulai bersalaman dengan tuan rumah Pasar Sasen, saya menyusul setelah memastikan jendela terbuka sedikit, maklum panasnya potato-potato (istilah untuk panas yang menyengat). Halaman Lego Roso masih terlihat lengang, dari jauh saya sudah mulai mengenali Mas Bimo dari identitas topi Guna Goni dan lebar pinggang. Tangan mulai bersalaman dengan banyak tangan lain. Mas Nug, Mbak Imel, Pak Garuda, Bu Garuda, dan berlanjut siang dengan pengunjung pasar yang terlihat riang.

Pasar Sasen, saya cenderung menyebut pasar satu ini adalah pasar anomali. Pasar Sasen berbeda dengan bentuk pasar alternatif yang ada, dari tempatnya yang berpindah-pindah, penyamaan status “raja” terhadap pembeli dan penjual, dan romantisme persaudaraan. Semangat Pasar Sasen sederhana, “Cintailah produk-produk teman sendiri”, diharapkan dengan mencintai produk teman akan menimbulkan keputusan pembelian, sehingga teman sendiri mendapatkan penghasilan. Teman membantu teman, jadi tidak ada teman yang susah, cara kerja komunitas. Menarik. Bukankah cara ini relatif tepat untuk mencapai MDGs? Ah sudahlah malah jadi melantur sok pintar.

Kembali ke Pasar Sasen, selain saya suka menyebut pasar anomali, saya juga mulai suka menyebut pasar ini adalah pasar selo. Kenapa selo, karena pasar ini tidak menghamba pada transaksi ekonomi saja, melainkan juga menghamba pada transaksi persaudaraan, obrolan multi disiplin, cerita kelam kehidupan ibu kota, swa tanam, kedamaian desa, dan banyak hal lainnya. Kemudian saya membatin “Pasar Sasen ini kok tak ubahnya segerombolan pemuda nongkrong  di cakruk, yang membedakan, kalau Pasar Sasen ada sesuatu yang dijual, ada kegiatan ekonominya, walaupun bukan utama. Pasar yang sungguh hangat, bisa mengobrol panjang dengan penjualnya, duduk berkelakar, pasar yang sungguh selo.

Karena saya sudah berteman dengan penjual Pasar Sasen, maka saya mencintai produk teman saya, dan saya memutuskan untuk membeli. Tahu buatan mas Kuncoro jadi buah tangan, tali persaudaraan saya kencangkan. Dimulai dari tangan, diakhiri dengan tangan, kami bersalaman, tanda mohon undur diri, berpamitan.

Pasar Sasen, pasar selo, pasar persaudaraan.

 

 

Marah

#FebruariMenulis05

 

“Puas kau sekarang, bajingan?!”

Moncong bibir Monica mengarah tajam ke Landung.

Landung diam, matanya yang melotot merah.

“Biadab! Sebentar lagi kau masuk penjara!”

Monica menarik ucapannya dan berpikir cepat mengganti serapahnya

“Nggak, bukan penjara, kamu akan pergi dengan memori kejadian ini. Pembunuhan ini.”

Telunjuk tangannya menunjuk ke arah mata Landung dengan gemetar, pria yang lima belas menit lalu ia masih cintai sebagai manusia yang bernyawa.

Landung teriak. Menjambak rambutnya, badannya berputar dan kembali ke tubuh Monica. Dengan puas ia ludahi mayat Monica yang telah mulai membeku.

 

 

Komulata

Ana bercerita tentang orientasi seksualnya yang ia pilih, sesama jenis. Secara cepat ibunya menampar pipi kanannya, karena ia mencintai Ani, adiknya sendiri.

Klaras

#FebruariMenulis03

#Klaras 01

“Ras, bagaimana rasanya menjadi Bruce Wyne? Lahir dengan harta, tumbuh dengan masalah.” Pertanyaan terlontar dari Nara yang duduk di kursi Jengki menghadap kebun kopi Ekselsa.

Klaras masih diam. Melihat lamat sinar matahari yang siap merekah pelan di ujung jendela. Suara gerombolan kecici mengingatkan Klaras untuk menjawab pertanyaan.

“Ya rasanya seperti nasi yang baru selesai diadhang bertemu dengan sambal bandeng. Nyamleng. Suara Klaras tetap rendah. Hening kembali mengisi subuh. Suara gerombolan kecici mendadak hilang dan kokok ayam jago tak ada kabar. Hening, hening sekali, seolah alam dan makhluk isinya tak lidahnya dipotong pagi.

Sepotong tanya terdengar di hening telinga Klaras.

Nyamleng?” Sedikit penasaran, Nara mempertanyakan arti kata terakhir yang diucapkan Klaras.

Klaras berdiri dengan cepat, mengambil Cudrik istrinya di meja dan langsung menusuk belakang leher, tepat dipangkal tulang leher. Istrinya hanya sempat membuka mata dan berteriak serak, kemudian matilah ia.

“Ya, nyamleng.” Klaras  berdiri mematung, menutup mata, menata nafas dan pikir “Seperti ini, Nara! Klaras mengambil kemeja hitam di kursi, memasukkan kancing satu persatu dan diakhiri dengan tetap membiarkan kancing paling bawah terbuka, membiarkan gamannya terlihat gagah di lipatan sarung hitam.

“Hashhh…. selesai sudah apa yang telah dituliskan. Aku tunggu kau di Soto pak Bagong. Kuah kaldu ayam kampung bening dan bumbu pepaknya cocok buat badan yang tegang semalaman.”

Nara mematikan handsfree di telinganya, berdiri dari kursi jengki, menutup pintu omah Kelingan. Ia berdiri mengarah jalan, digerakkan jarinya untuk menarik jalan trasah batu yang diikuti jalan aspal kecil yang diteruskan dengan jalan aspal besar menjadi berlipat dan lebih pendek, kemudian ia berdiri di atasnya dan berjalan biasa. Ajian lompat kidang, cara untuk memperpendek jarak.

 

 

Sang Predator Telah Ditemukan!

Hari ini semakin benar kuasa perempuan terhadap semua yang ada di dunia ini. Kembali sang Pemimpin ditelan oleh kuasanya. Mungkin kalau Bill Clinton langganan surat kabar negeri ini dia akan sedikit galau. Ingat, di tulisan ini tidak ada karakter korban, semuanya adalah sama-sama pelaku.

Sabtu dan Minggu, Nur Sekarpening merajai semua media, bahkan sampai obrolan di warung nasi tempong bu Susi. Foto Nur Sekarpening diberi tajuk ‘Raja di Raja, Predator dari segala predator’. Isi beritanya sungguh membuat mulut berdecak penuh ragu. Nur Sekarpening memangsa sang pemimpin besar kelompok Raabwaji, pemimpin yang hampir semua orang percaya dialah sang predator pemuncak rantai makanan. Dialah pemangsa dari segala pemangsa, dialah yang tak akan termangsa oleh segala makhluk pemangsa.

Hari Senin, foto Nur Sekarpening mendadak lebih kecil dan diletakkan di atas  foto Sang pemimpin besar kelompok Raabwaji dengan tajuk ‘Sang Predator telah dimangsa’. Isi beritanya lebih dominan penyangkalan orang-orang terdekat sang pemimpin besar, bukan dari sang pemimpin besar itu sendiri, bahkan sang pemimpin besar tidak terlihat semenjak munculnya berita ini.

Hari ini, sekali lagi William Golding benar adanya. Wanita itu tidak setara dari laki-laki, mereka lebih dari itu! Nur Sekarpening, sang predator telah datang, telah ditemukan! Orang-orang di lantai dasar rantai makan bersorak riuh, hegemoni sang pemimpin mulai runtuh.

Sang Sri

#FebruariMenulis01

“Tidak ada yang mau seperti saya, semua hanya ingin menjadi pintar. Siapa yang mau seperti saya? Bangun pagi, masak sarapan, menyapu halaman, sarapan sambil baca buku yang harus selesai dirangkum sebelum makan malam. Berangkat ke sekolah, merangkum, menafsirkan, kemudian dibuat catatan sendiri setiap mata pelajaran. Begitu setiap hari.

Sekali lagi siapa yang mau jadi seperti saya? Semua hanya ingin menjadi pintar, semua hanya ingin rangking satu, dan dapat hadiah. Itu saja.”

Dengan diakhiri kepala menunduk, Sri menggenapi perintah Ibu guru untuk memberikan pesan-pesan kepada temannya, agar mereka bisa meniru kesuksesan dirinya sebagai juara kelas.

Renungan Urban: Pekerjaan & Harapan

“Waktu memang jahanam

Kota kelewat kejam

Dan pekerjaan menyita harapan.”

Lirik Silampukau yang berjudul Lagu Rantau di atas menyadarkan saya akan pekerjaan dan harapan. Di lingkungan saya, biro iklan, jarang sekali saya temukan karyawan yang menceritakan betapa bahagianya ia dengan pekerjaannya. Dan selalu ditutup dengan kata “Resign”, tapi itu hanya kata, bukan sebuah tindakan.

Kembali ke lirik Silampukau, pekerjaan saya memang menyita harapan. Harapan untuk kembali dan berkarya di desa. Kenapa saya ingin segera mengakhiri pekerjaan saya sekarang? Karena saya menyadari, saya tidak mengerjakan harapan di sini. Saya hanya mengerjakan rutinitas, menunggu gaji bulanan dan  melunasi tagihan awal bulan.

Nah, okelah saya lanjutkan dulu dengerin Silampukaunya.

Strategic atau Reactive?

Pernah nggak sih ngrasain otak kebanyakan ide sampai nggak tahu mana yang mau direalisasikan. Ngobrol sama orang baru, nambah ide baru lagi. Ketemu temen lama yang udah mulai bisnis, nambah ide lagi. Nambah dan nambah terus. Banjir ide. Akhirnya ide itu terbawa banjir dan lenyap dan kita hanya diam saat menyadari orang lain sudah menciptakan, sedangkan kita hanya diam dalam lamunan. Lamunan ide.

Dari situ ada hal yang disadari, Most people are not strategic. They are reactive. (Baca lengkapnya di sini : http://thoughtcatalog.com/ryan-holiday/2016/08/29-lessons-from-the-greatest-strategic-minds-who-ever-lived-fought-or-lead/)

Ide yang muncul setelah bertukar obrolan dengan orang, semangat kisi-kisi sukses dari orang yang sudah berada di atas adalah sebuah reaksional belaka, lompatan semangat instan. Gembosnya semangat dan ide yang beguguran karena tidak adanya strategi. Strategi adalah kompas untuk semangat dan ide kita berjalan ke arah yang kita inginkan. Ya strategi, bukan reaksi. Jadi, sudah kepikiran strategi? Atau malah belum tahu mau ngapain? Ya, itu masalah sih.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑